Langsung ke konten utama

Catatan Kajian Al Qur'an: Tafsir QS Al Alaq ayat 6-8 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir QS Al Alaq ayat 6-8 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Oleh: Sulis Sha

Ayat 6

كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَيَطْغَىٰٓ

Referensi : https://tafsirweb.com/12872-surat-al-alaq-ayat-6.html

"Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,"

Ayat 7

أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ

Karena dia melihat dirinya serba cukup.

إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجْعَىٰٓ

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).

Setelah di ayat 1-5 Allah menjelaskan tentang kenikmatan-kenikmatan manusia, di ayat ini Allah ingin menjelaskan tentang salah satu sifat jeleknya manusia. 

ٱلْإِنسَٰنَ yang dimaksud di sini adalah (perbedaan pendapat ulama)

1. Orang yang namanya Abu Jahal
Karena ada sebagian riwayat shahih muslim yang menceritakan Asbabun Nuzul, ayat ini turun disebabkan oleh kisahnya Abu Jahal yang ingin menginjak kepalanya Rosulullah ketika melihat Beliau sedang sholat.

2. Seluruh manusia tanpa terkecuali
Pendapat ini lebih kuat, karena di ayat ini menggunakan bentuk umum yang artinya "Sesungguhnya manusia". Dan masing-masing dari kita (manusia) memiliki potensi untuk melampui batas. Tapi, ada orang yang bisa meminimalisir potensi itu, menekannya sehingga sifat melampui batas itu tidak muncul dengan keimanan yang dimiliki. Namu ada yang mengumbar potensi itu sehingga melampui batas.

Ada orang yang mampu menekan potensi malampui batas itu, ada yang tidak. Pemicunya ada dalam diri sendiri dan ada juga dari luar diri kita.

Di ayat ke-7 Allah jelaskan, bahwa salah satu pemicu yang akan membuat orang akan  melampui batas adalah apabila seseorang merasa dirinya serba cukup. Baik hartanya maupun status sosialnya. Atau bahkan merasa cukup karena pendukung atau pengikutnya.

Makanya kita harus waspada. Waspada dengan karunia Allah. Baik berupa kekayaan, jabatan, pendukung, pengikut, maupun keturunan.

Menjadi orang kaya, punya jabatan, punya pengikut itu tidak tercela. Karena banyak orang sholeh yang kaya raya. Bahkan ada diantara Nabi yang kaya raya. 

QS An Naml ayat 16-17

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".

"Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)"

Kekayaan tidak tercela jika tidak melalaikan akherat. Kekayaan menjadi tercela jika menjauhkan kita dari Allah dan melalaikan akherat.

QS An Naziat 37-39

Adapun orang yang melampaui batas,
Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)

Mereka adalah orang-orang yang terlalu sibuk mengurusi dunia, sampai lupa dengan urusan akheratnya.

Agar kita tidak menjadi orang yang melampui batas, kuncinya ada di ayat 8

"Sesungguhnya, tempat kembalimu adalah Allah"

Maksudnya di sini adalah, kita harus ingat bahwa kita ini akan kembali ke akherat. Ini akan membuat kita bisa mengekang potensi melampui batas. Semakin kita mengingat bahwa akan ada hari pembalasan, semakin mudah kita mengekang potensi melampui batas.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatn Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). وَٱسْجُدْ  artinya sujud tilawah Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan oleh orang yang memmbaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat di dalam Al Quran yang di dalamnya ada perintah untuk sujud. Atau cerita tentang orang-orang yang sujud. Contohnya di ayat 19 ini. Ada juga cerita sujudnya orang-orang beriman yang sujud. Mengapa kita sujud tilawah? Karena kita mengikuti tuntunan Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam. Hikmahnya, ketika kita sujud kita sedang berinteraksi dengan Al Quran. Jadi kita membaca Al quran bukan hanya sekedar membaca. Tetapi jika al quran memerintahkan kepada kita, maka kita langsung mengamalkannya. Rosulullah ketika membaca Al quran yang isinya tentang rahmat Allah, tentang surga, kenikmatan-kenikmatan Allah, maka Rosulullah s...

Catatn Kajian Tafsir : Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 ( Ustadz Abdullah Zaen, LC )

Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) Oleh : Sulis Sha كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,” نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Di ayat sebelumnya, Allah mengingatkan Abu Jahal dengan cara yang lembut. Tetapi teguran dengan cara yang kembut itu tidak mempan. Maka Allah memberikan teguran yang sangat keras. Di sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa berdakwah itu boleh dengan lembut, boleh juga dengan keras. Jadi baik lembut ataupun keras itu diperbolehkan. Tapi ada aturannya. 1. Tergantung mana yang bisa menghasilkan kemaslahatan / kebaikan Secara garis besar, sikap lembut ini harus lebih dominan. 2. Lebih mengedepankan kelembutan daripada kekerasan. Ayat 16 “ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” Maksudnya ditarik ubun-ubunnya di sini ada tiga penafsiran, 1. Maksudnya adalah ditarik deng...

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS. Al Alaq Ayat 4 - Ustadz Abdullah zaen, Lc

Tafsir QS. AL Alaq ayat 4 - Ustadz Abdullah Zaen, LC Oleh : Sulis Sha ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ Artinya: Dialah (Allah) yang mengajari dengan pena Hubungan ayat tiga dan empat:  Setelah Allah menutup ayat ketiga dengan salah satu nama-Nya yaitu Al Akram, maka di ayat ke empat Allah menyebutkan salah satu diantara kemurahanNya. Yaitu diantara bentuk kemurahan Allah kepada kita, Allah mengajarkan dengan pena. Di ayat ini, alat untuk mengajarkannya disebutkan yaitu pena. Akan tetapi objeknya tidak disebutkan di sini. Menurut para ulama, objeknya adalah menulis. Jadi Allah mengajarkannya dengan pena. Ini menunjukkan pentingnya ilmu menulis. Para ulama terdahulu mengatakan, "Ilmu itu seperti hewan buruan. Tali yang digunakan untuk mengikatnya adalah menulis" Artinya, ilmu itu harus ditulis, jika tidak ditulis akan mudah menghilang.  Sarana menyimpan ilmu, intinya ada tiga. 1. otak 2. Pena 3. Lisan (Imam Ibnu Katsir) Allah memilih pena karena ingin menunjukkan keajaiban pena. Kar...