Langsung ke konten utama

Catatan Kajian Tafsir Al Quran: Tafsir Global Surat Al Alaq - Ustad Abdullah Zaen, LC

Tafsir Global Surat Al Alaq- Ustadz Abdullah Zaen, LC

Oleh : Sulis Sha

Di dalam surat Al Alaq sekurang-kurangnya ada lima kandungan utama:

1. Penjelasan tentang keagungan Allah di dalam menciptakan manusia (di ayat 2)

Allah menciptakan kita yang asalnya dari segumpal darah, lalu menjadi ahsani taqwim. 

Apa fungsinya kita memahami asal muasal penciptaan kita? Apa tidak cukup kita tahu bentuk yang sekarang saja? Hal ini amat sangat penting bagi manusia untuk mengetahui asal muasal dia tercipta.

  • Agar tidak sombong. Bahwa secantik-cantiknya manusia, seganteng-gantenya manusia, dan sekaya-kayanya anda, setinggi-tingginya jabatan, asal muasalnya dari sesuatu yang hina. Ketika kita mengingat asal muasal ciptaan Allah, asal muasal diciptakan kita, maka perasaan sombong itu diharapkan akan turun.
  • Untuk mengetahui keagungan Allah subhanahu wa ta'ala. Bagaimana Allah Subhanahu wa ta'la menciptakan kita dari sesuatu yang sangat hina bisa menjadi penguasa dunia. Ini semua ada campur tangan dari Allah Subhanahu wa ta"ala. Allah jelaskan tentang bagaimana proses penciptaan manusia, di dalam QS Al mukminun ayat 12-14
"Sungguh kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah" ( QS Al mukminun ayat 12)

"Kemudian kami jadikan manusia berupa setetes mani di dalam rahim yang kuat, tempat yang kokoh" (QS Al Mukminun ayat 13)

Manusia berasal dari saripati tanah karena nabi Adam asal muasalnya dari tanah. Sedangkan keturunan nabi Adam berasal dari mani.

"Kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian, kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang paling Baik.

Berapa lama proses dari darah sampai daging?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, 

Kata Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam,"Sesungguhnya kalian diciptakan di dalam perut ibu kalian dalam bentuk air mani selama 40 hari"

Begitu juga berubah menjadi darah, lalu menjadi daging selama 40 hari atau proses dari air mani sampai pada segumpal daging selama 4 bulan. Setelah 4 bulan baru kemudian Allah tiupkan nyawa.

Oleh karena itu, kata ulama fikih jika ada ibu keguguran dan usianya masih di bawah 4 bulan, tidak ada konsekwensi mengubur seperti halnya jenazah. Maksudnya, bisa dikubur biasa. Tidak perlu dikafani, dimandikan, disholatkan. Tapi jika usianya sudah menginjak 4 bulan, berarti sudah ada nyawanya. Dan menguburkannya pun juga harus seperti jenazah pada umumnya. Dimandikan, dikafani, disholatkan, bahkan kata para ulama di aqiqahkan dan diberi nama.

Setelah berumur 120 hari atau 4 bulan, Allah kemudian menjadikannya segumpal tulang-tulang. Lalu kemudian allah bentuk rupa nya. Mulai ada tangan, kaki, telinga, mata, dll.

Begitulah proses penciptaan kita (manusia). Maka, jika kita sudah tahu bagaimana kita diciptakan, sudah seharusnya kita tau diri. Jangan sampai sombong di muka bumi.

2. Penjelasan tentang kemurahan Allah mengajari manusia 

Sebelumnya sudah dijelaskan oleh Allah jika kita diciptakan dari sesuatu yang hina, tapi justru kita bisa menjadi penguasa di muka bumi ini. Itu semua karena Allah bermurah memberikan kita ilmu. Dengan ilmu lah kita bisa menguasai semua alam semesta ini. dan ini adalah kemurahan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Kita lahir di muka bumi ini tidak tahu apa-apa. Kata Allah Subhanahu wa ta'ala,

"Allah Subhanahu wa ta'ala mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur"( QS An Nahl ayat 78)

Di dalam QS Al baqarah Allah bercerita bagaimana diciptakannya nabi Adam. Ketika Allah ingin menciptakan Nabi Adam, malaikat "protes"

"Ingatlah ketika Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,"Sungguh kami akan menciptakan di muka bumi ini seorang Khalifah (manusia)"

Kata para malaikat,"Wahai Rabbi, apakah Engkau akan menciptakan di muka bumi ini sosok-sosok yang melakukan kerusakan di atasnya dan menumpahkan darah?"

Kata malaikat lagi,"Sedangkan kami Ya Allah, kami selalu bertasbih, kami selalu mensucikan Engkau wahai Rabbi"

Maka kata Allah,"Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui"

Kemudian Allah menjelaskan keistimewaan manusia

"Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala mengajari Adam seluruh ilmu, nama semua apa yang ada di bumi"

Ada sebagian ulama yang mengatakan, seluruh ilmu, nama-nama di muka bumi ini diajarkan kepada nabi Adam. Setelah semua nama di ajarkan kepada Nabi Adam, kemudian semua ditampakkan kepada malaikat. Lalu malaikat berkata,

"Maha suci Engkau wahai Rabbi, kami tidak punya ilmu kecuali yang Engkau ajarkan kepada kami.

(QS Al Baqarah ayat 31-32)

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman,"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (QS Al Baqarah ayat 31)

"Mereka menjawab,"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS Al Baqarah ayat 32)

Jadi Allah Subhanahu wa ta'ala mengajarkan kita ilmu-ilmu yang sebelumnya banyak kita tidak ketahui. Dan Subhanallah, setiap hari ada ilmu baru yang diketahui manusia. Semua itu berkat karunia Allah Subhanahu wa ta'ala.

3. Penjelasan tentang salah satu sifat dasar manusia. 

Yaitu manusia suka lupa daratan (melampaui batas ) dijelaskan dalam surat Al Alaq ayat 6.

"ketahuilah bahwasannya manusia itu adalah betul-betul melampaui batas"

Apa penyebabnya?

Karena manusia sering merasa kaya. Ada sebagian orang yang kaya dan terseret dalam kesombongan. Contohnya, seperti Qorun. Seorang milyader jaman dulu. Kuncinya saja tidak bisa dibawa sepuluh orang karena terbuat dari emas. 

Padahal tanpa bantuan dari allah, mau sekaya apapun tidak akan dapat memanfaatkan hartanya. Contoh; orang kaya yang sakit-sakitan dan tidak boleh makan yang enak-enak.

Tapi tidak semua orang kaya itu melampaui batas. Contohnya, Nabi Sulaiman AS. Kekayaannya luar biasa. Sampai istananya, di bawahnya seperti air. Kata Nabi Sulaiman,

"Ini semuanya karunia dari Allah Subhanahu wa ta'ala"

Dalam QS An Naml ayat 40

"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dan Alkitab,"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata," Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhan-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia"

Di ayat ini, menjelaskan tentang bagaimana seharusnya orang kaya itu bersikap. Tapi kebanyakan orang yang diberi kekayaan akan melampaui batas. Kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta'ala

4. Penjelasan tentang kebiasaan salah satu orang kafir

Yaitu suka menghalangi kaum mukminin untuk beribadah (Al Alaq ayat 9)

Ayat ini, asbabun nuzulnya adalah tentang kisahnya Abu Jahal. Yang Nabi sebutkan dalam riwayat Hadits Muslim,

Diceritakan, pada suatu hari Abu Jahal bertanya,"Apakah Muhammad kembali meletakkan kepalanya di atas tanah di hadapan kalian?"

"Iya, Abu Jahal. Kami melihat kembali dia sujud meletakkan kepalanya di tanah"

Begitu mendengar itu, lalu Abu Jahal berkata,"Demi Latta dan Uzza, kalau aku sampai melihat Muhammad melakukan hal yang serupa, aku akan injak kepalanya atau akan aku benamkan wajahnya di pasir"

Abu Jahal telah bersumpah. Ketika dia mendatangi sekeliling kakbah, dia melihat Rosulullah benar-benar sedang sujud. Orang-orang di belakang sudah menunggu apa yang akan dilakukan oleh Abu Jahal. Dia kemudian mendekati Nabi yang sedang sholat. Kemudian begitu dia semakin mendekat, tiba-tiba dia mundur ke belakang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Maka orang-orang pun bertanya,"Ada apa? Bukankah kamu sudah bersumpah ingin menginjaknya?"

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam masih tetap dalam sujudnya. Maka abu Jahal mengatakan,"Sungguh...ketika aku sudah dekat dengan Muhammad, tiba-tiba di hadapanku ada parit yang di dalamnya ada api berkobar dengan begitu besar dan sangat mengerikan, dan aku melihat ada sayap-sayap besar di situ"

Lalu Nabi bercerita, "Jika sampai Abu Jahal nekat tetap mendekat dan ingin menginjakkan kakinya di kepalaku, niscaya malaikat mencabuti anggota tubuhnya satu-satu."

Lalu Allah menurunkan QS Al alaq ayat 9 ini. Ada orang yang menghalang-halangi orang lain beribadah.

Di masa sekarang ini, ada orang yang ingin melakukan ibadah tetapi banyak yang menghalangi. Sedangkan yang buruk malah dibudayakan. Contohnya, poligami dengan prostitusi, suara adzan yang dituduh mengganggu, cadar seorang muslimah yang dituduh macam-macam.

5. Motivasi untuk istiqomah

Terdapat di ayat 19. 

Yang artinya, janganlah sekali-kali kalian ikuti kemauan mereka. Jadi, jangan sekali-kali ikuti orang-orang kafir yang menghalangi kita beribadah. Tetaplah engkau sujud dan mendekat pada Allah Azza wa jalla. 

Sumber: https://youtu.be/MTaJescbOhI








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatn Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). وَٱسْجُدْ  artinya sujud tilawah Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan oleh orang yang memmbaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat di dalam Al Quran yang di dalamnya ada perintah untuk sujud. Atau cerita tentang orang-orang yang sujud. Contohnya di ayat 19 ini. Ada juga cerita sujudnya orang-orang beriman yang sujud. Mengapa kita sujud tilawah? Karena kita mengikuti tuntunan Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam. Hikmahnya, ketika kita sujud kita sedang berinteraksi dengan Al Quran. Jadi kita membaca Al quran bukan hanya sekedar membaca. Tetapi jika al quran memerintahkan kepada kita, maka kita langsung mengamalkannya. Rosulullah ketika membaca Al quran yang isinya tentang rahmat Allah, tentang surga, kenikmatan-kenikmatan Allah, maka Rosulullah s...

Catatn Kajian Tafsir : Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 ( Ustadz Abdullah Zaen, LC )

Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) Oleh : Sulis Sha كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,” نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Di ayat sebelumnya, Allah mengingatkan Abu Jahal dengan cara yang lembut. Tetapi teguran dengan cara yang kembut itu tidak mempan. Maka Allah memberikan teguran yang sangat keras. Di sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa berdakwah itu boleh dengan lembut, boleh juga dengan keras. Jadi baik lembut ataupun keras itu diperbolehkan. Tapi ada aturannya. 1. Tergantung mana yang bisa menghasilkan kemaslahatan / kebaikan Secara garis besar, sikap lembut ini harus lebih dominan. 2. Lebih mengedepankan kelembutan daripada kekerasan. Ayat 16 “ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” Maksudnya ditarik ubun-ubunnya di sini ada tiga penafsiran, 1. Maksudnya adalah ditarik deng...

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS. Al Alaq Ayat 4 - Ustadz Abdullah zaen, Lc

Tafsir QS. AL Alaq ayat 4 - Ustadz Abdullah Zaen, LC Oleh : Sulis Sha ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ Artinya: Dialah (Allah) yang mengajari dengan pena Hubungan ayat tiga dan empat:  Setelah Allah menutup ayat ketiga dengan salah satu nama-Nya yaitu Al Akram, maka di ayat ke empat Allah menyebutkan salah satu diantara kemurahanNya. Yaitu diantara bentuk kemurahan Allah kepada kita, Allah mengajarkan dengan pena. Di ayat ini, alat untuk mengajarkannya disebutkan yaitu pena. Akan tetapi objeknya tidak disebutkan di sini. Menurut para ulama, objeknya adalah menulis. Jadi Allah mengajarkannya dengan pena. Ini menunjukkan pentingnya ilmu menulis. Para ulama terdahulu mengatakan, "Ilmu itu seperti hewan buruan. Tali yang digunakan untuk mengikatnya adalah menulis" Artinya, ilmu itu harus ditulis, jika tidak ditulis akan mudah menghilang.  Sarana menyimpan ilmu, intinya ada tiga. 1. otak 2. Pena 3. Lisan (Imam Ibnu Katsir) Allah memilih pena karena ingin menunjukkan keajaiban pena. Kar...