Langsung ke konten utama

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an: Tafsir Surat Al Alaq ayat 1 - Ustadz Abdullah zaen, LC

Tafsir Al Alaq ayat 1-Ustadz Abdullah Zaen, LC

Oleh: Sulis Sha

Tafsir Ayat 1

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

Menurut para mayoritas ulama tafsir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al Qurthubi, bahwa ayat ini adalah merupakan ayat yang pertama kali turun di dalam Al Quran. Ada perbedaan pendapat dalam hal. Ada yang mengatakan yang pertama turun itu surat Al Fatihah, ada juga yang mengatakan surat yang lainnya. Akan tetapi mayoritas ulama tafsir mereka sepakat mengatakan bahwa ayat ini adalah yang pertama kali turun.

Sebagaimana yang dituturkan oleh istri Rosulullah Shallallahu alai wa sallam, Aisyah RA. 

Kata Beliau,

“Sesungguhnya surat Al Quran yang pertama kali turun adalah iqra bismirabbika”

اِقْرَأْ (iqra’) artinya bacalah.

Kata sebagian ulama membaca itu bisa bermakna,

1. Membaca dari tulisan

2. Membaca berarti mengucapkan. Bersumber dari hafalan di kepala.

Dalam hadits Bukhari Muslim, 

“Tidak sah orang yang sholat tidak membaca Al fatihah”

Maksudnya adalah, membaca Al fatihah di sini bukan berarti membaca catatan atau mushaf. Tapi membaca di sini berarti membaca dari hafalannya.

Apa yang diperintahkan untuk membaca?

Di ayat ini objeknya tidak disebutkan jelas. Tapi menurut sebagian ulama, objeknya (menurut Imam As syaukani dan lainnya) adalah wahyu yang akan diturunkan kepada Rosululullah yaitu Al Quran. Dan perintah ini juga berlaku untuk 

بِاسْمِ رَبِّكَ : dengan nama Rabbmu.

Bi: Huruf “ba”di sini para ulama berbeda pendapat. Apakah satu huruf ini ada artinya atau hanya sisipan semata. 

Ada sebagian ulama yang mengatakan, huruf “bi” di situ hanyalah sisipan saja. Tidak ada maknanya. Jadi arti sebenarnya hanyalah “Bacalah nama Rabbmu”. Jadi “dengan” nya tidak ada atau dihilangkan. Tapi ada pendapat yang mengatakan bahwa pendapat itu lemah. Karena setiap huruf di dalam Al quran itu pasti ada maknanya.

Para ulama menafsirkan bahwa “bi” itu ada beberapa makna,

1. Maksudnya adalah, mulailah, awalilah dengan membaca bismillah ketika memulai membaca Al quran.

Ada ulama yang mengatakan bahwa membaca basmalah ini disunahkan. Dalam hadits Imam Muslim, oleh Anas Ibnu malik RA.

“Suatu hari ketika Rosulullah sedang bersama kami, tiba-tiba Rosulullah tertidur sebentar. Setelah itu Beliau Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengangkat kepalanya sambil senyum.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rosul, apa yang membuat kamu tersenyum?” Maka beliau Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Tadi telah diturunkan kepadaku sebuah surah.” Kemudian Rosulullah membacakan surah yang baru saja turun tersebut. Kemudian Beliau Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam membaca,

“Bismillahirrahmanirrahiim. Innaa a'taina kal kautsar. Fashalli li rabbika wanhar. Inna syaani-aka huwal abtar“

Ini menunjukkan bahwa disunahkan untuk membaca basmalah setiap mengawali surah di Al qur’an kecuali surat At taubah. 

2. Maksudnya huruf “bi” di situ adalah memohon bantuan dengan membaca basmallah. 

Memohon pertolongan kepada Allah supaya bisa membaca. Karena dalam riwayat asbabun nuzul surat ini, Rosulullah kala itu di dekap oleh malaikat jibril begitu keras dan diminta untuk membaca.

3. Menurut para ulama, maksudnya adalah niatkanlah karena Allah. 

Jika kita ingin membaca Al qur’an niatkanlah karena Allah. Usahakan ikhlas saat kita membaca. Bahkan dalam setiap perbuatan kita, termasuk perbuatan-perbuatan yang sifatnya duniawi. Contohnya; makan,minum, bekerja, berpakaian, dst. Supaya mendapatkan pahala.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ

Kalau kita mendengar kata basmalah, di situ yang dipakai adalah kata Allah. Sedangkan di kalimat “bismirobbika” yang dipakai adalah kata Rabb.

Rabb artinya pemilik, penguasa, pencipta, pengatur. 

Kata para sebagian ulama, kenapa pakai Rabb dan tidak pakai Allah, adalah untuk menenangkan hati Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena saat itu nabi sangat takut dan mengalami suatu kondisi yang belum pernah dialami sebelumnya. Dengan menggunakan kata Rabb, berarti wahyu ini turun dari yang menciptakan, dari yang mengatur, yang memiliki.

الَّذِيْ خَلَقَۚ

Artinya: yang menciptakan

Menciptakan adalah perbuatan Allah. Perbuatan Allah banyak. Contohnya, melihat mendengar, memberi, berbicara, menghidupkan, mematikan, mengatur, memberi rejeki, menyembuhkan, dll banyak sekali. Tetapi di ayat ini yang dipilih adalah  kata “menciptakan”

Kata sebagian ulama, Allah menggunakan kata “menciptakan” karena ingin mengingatkan kaum musyrikin bahwa yang menciptakan alam semesta ini Allah. Karena orang musyrikin mengakui itu semua.  Bahwa kamu musyrik mengakui, bukan berhala mereka yang menciptakannya tapi Allah.

Didalam Qs Lukman ayat 25

“Wahai Muhammad, jika engkau tanya pada kaum musyrikin, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Mereka pasti akan menjawab, “Allah”

- Di ayat ini juga tidak disebutkan menciptakan apa. Kata para ulama, apabila objeknya dihapus atau tidak disebutkan, itu artinya “semuanya”. Artinya semuanya Allah ciptakan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatn Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). وَٱسْجُدْ  artinya sujud tilawah Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan oleh orang yang memmbaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat di dalam Al Quran yang di dalamnya ada perintah untuk sujud. Atau cerita tentang orang-orang yang sujud. Contohnya di ayat 19 ini. Ada juga cerita sujudnya orang-orang beriman yang sujud. Mengapa kita sujud tilawah? Karena kita mengikuti tuntunan Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam. Hikmahnya, ketika kita sujud kita sedang berinteraksi dengan Al Quran. Jadi kita membaca Al quran bukan hanya sekedar membaca. Tetapi jika al quran memerintahkan kepada kita, maka kita langsung mengamalkannya. Rosulullah ketika membaca Al quran yang isinya tentang rahmat Allah, tentang surga, kenikmatan-kenikmatan Allah, maka Rosulullah s...

Catatn Kajian Tafsir : Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 ( Ustadz Abdullah Zaen, LC )

Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) Oleh : Sulis Sha كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,” نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Di ayat sebelumnya, Allah mengingatkan Abu Jahal dengan cara yang lembut. Tetapi teguran dengan cara yang kembut itu tidak mempan. Maka Allah memberikan teguran yang sangat keras. Di sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa berdakwah itu boleh dengan lembut, boleh juga dengan keras. Jadi baik lembut ataupun keras itu diperbolehkan. Tapi ada aturannya. 1. Tergantung mana yang bisa menghasilkan kemaslahatan / kebaikan Secara garis besar, sikap lembut ini harus lebih dominan. 2. Lebih mengedepankan kelembutan daripada kekerasan. Ayat 16 “ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” Maksudnya ditarik ubun-ubunnya di sini ada tiga penafsiran, 1. Maksudnya adalah ditarik deng...

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS. Al Alaq Ayat 4 - Ustadz Abdullah zaen, Lc

Tafsir QS. AL Alaq ayat 4 - Ustadz Abdullah Zaen, LC Oleh : Sulis Sha ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ Artinya: Dialah (Allah) yang mengajari dengan pena Hubungan ayat tiga dan empat:  Setelah Allah menutup ayat ketiga dengan salah satu nama-Nya yaitu Al Akram, maka di ayat ke empat Allah menyebutkan salah satu diantara kemurahanNya. Yaitu diantara bentuk kemurahan Allah kepada kita, Allah mengajarkan dengan pena. Di ayat ini, alat untuk mengajarkannya disebutkan yaitu pena. Akan tetapi objeknya tidak disebutkan di sini. Menurut para ulama, objeknya adalah menulis. Jadi Allah mengajarkannya dengan pena. Ini menunjukkan pentingnya ilmu menulis. Para ulama terdahulu mengatakan, "Ilmu itu seperti hewan buruan. Tali yang digunakan untuk mengikatnya adalah menulis" Artinya, ilmu itu harus ditulis, jika tidak ditulis akan mudah menghilang.  Sarana menyimpan ilmu, intinya ada tiga. 1. otak 2. Pena 3. Lisan (Imam Ibnu Katsir) Allah memilih pena karena ingin menunjukkan keajaiban pena. Kar...