Langsung ke konten utama

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir Al Alaq ayat 9-12 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir Al Alaq ayat 9-12 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) 

Di ayat 6 Allah bercerita tentang manusia yang melampaui batas. Orang yang melampaui batas itu tidak hanya orang yang tidak mau berbuat kebajikan. Tetapi juga termasuk orang-orang yang melarang orang yang ingin melakukan kebajikan.

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يَنْهَىٰ (ayat 9)

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,

عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰٓ (ayat 10)

Seorang hamba ketika mengerjakan shalat,

Di sini ada 3 poin penting

1. Yang dihalagi adalah sholat

2. Ada orang yang menghalangi 

3. Ada orang yang dihalangi

Para sebagian ulama, yang dimaksud dengan orang yang menghalangi ini adalah Abu Jahal. Dan yang dihalangi adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini karena diambil dari riwayat asbabun nuzulnya, yaitu saat Abu Jahal ingin menginjak kepala Nabi Muhammad Shallallahu alaihinwa sallam.

Kisah ini ada dalam shahih muslim yang dituturkan oleh Abu Hurairah RA. Dari Abu Hurairah, 

“Abu Jahal pernah berkata,”Apakah Muhammad lagi lagi melumuri wajahnya dengan tanah di hadapan kalian? (Yang dimaksud di sini adalah sujud)
“Iya, benar”
Maka emosinya naik dan berkata, “Demi Latta danUzza, kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Muhammad melakukan itu, akan ku injak lehernya. Atau akan aku benamkan kepalanya di tanah”
Tapi ketika dia bergegas mendekati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba Abu Jahal mundur dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Maka dia ditanya,

“Kenapa mundur?”
“Tadi ketika aku mendekat, ada parit dan api yang menyala-nyala, dan banyak sayap besar”

Lalu ketika selesai sholat, Rosulullah berkata.

“Jika Abu Jahal mendekat selangkah lagi, niscaya malaikat akan mencabuti anggota tubuhnya satu-persatu”

Lalu turunlah ayat Al Alaq ayat 9 

Menurut orang Arab, ayat 9-12 ini berisi tentang uangkapan keheranan (Sighotut ta’jub) Heran kenapa ada orang yang melarang orang lain Sholat. Sebab orang-orang pada heran,

1. Karena yang menghalangi Abu Jahal.
Abu Jahal pernah didoakan mendapat hidayat. Dalam HR Tirmidzi, Rosulullah pernah berdoa,
“Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih engkau cintai. Yaitu Umar Bin Khattab atau Abu Jahal”

Dari kisah ini kita bisa ambil pelajaran bahwa, kita tidak tahu siapa orang2 yang akan membela Islam. 

2. Karena Abu Jahal dahulu mendapat julukan Abul Hakam (orang yang sangat bijak)
3. Karena perbuatan yang dilarang adalah ibadah yang sangat istimewa (sholat)

Banyak di masa kini orang yang melarang orang lain melakukan kebaikan. Contohnya, poligami dilarang sedangkan selingkuh dihalalkan. Wanita yang berpakaian syari pakai cadar dihujat, sedangkan orang yang berpakaian primitif dipuja-puja. Suara adzan dilarang, sedangkan suara musik pesta diwajarkan.

أَرَءَيْتَ إِن كَانَ عَلَى ٱلْهُدَىٰٓ (ayat 11)
Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran,

أَوْ أَمَرَ بِٱلتَّقْوَىٰٓ (ayat 12)
Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?

Di ayat 11 dan 12 ini, Allah memberi peringatan bagi orang yang menghalangi kebaikan. Dan peringatan yang disampaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala ada tahapan-tahapannya. Menurut Imam Ibnu Katsir, 

1. Memperingatkan dengan lembut.
Kadang-kadang kita tidak bisa membungkus kebaikan. Yang disampaikan baik, tapi cara penyampaiannya buruk. Di sini, Allah mengawali peringatannya kepada orang-orang yang menghalangi kebaikan dengan cara yang baik.

Tokoh dunia yang sangat kafir, yaitu Firaun. Diutus di jaman Nabi Musa dan Nabi Harun. Tapi Allah berpesan kepada Nabi Musa dan Harun,

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”  QS thaha 44

Sebuah kisah

Ada kisah seorang khalifah terkenal, yaitu Harun Ar Rasyid. Suatu ketika, Harun Ar Rasyid sedang thawaf. Tiba-tiba ada orang yang menemuinya. Ketika bertemu dengan beliau, tiba-tiba dia memanggil, “Harun! Aku ingin menasihatimu, tapi dengan suara yang sangat keras dan kasar”
Harun lalu berkata, “tidak mau”
Orang itu lalu bertanya,”kenapa?”
Harun lalu menjawab, “Aku tidak lebih buruk dari Firaun dan kamu tidak lebih sholeh dari Musa. Nabi Musa diminta Allah untuk mendakwahi Firaun dengan cara yang lembut. Sedangkan aku tidak lebih buruk dari Firaun”

Syekh Bin Ba’as berkata, “Zaman ini adalah zaman kelemah lembutan. Zaman kesabaran dan zaman hikmah. Dan bukan masanya saat ini berkata kasar dan keras”

Di ayat 11 dan 12 ini, Abu Jahal diajak untuk berfikir. Bahwa yang dilarang itu adalah orang yang sholeh (pribadinya baik) dan muslih (mengajak kepada kebaikan). Padahal Abu Jahal adalah orang yang tidak pintar. Jahal (bodoh banget).

Di ayat ini juga mengajak kepada kita untuk mensholehkan diri sendiri dan juga mengajak orang lain. Jadi kesholehan itu tidak hanya untuk diri sendiri. Terutama mengajak keluarga sendiri. Lalu mengajak kepada tetangga, orang terdekat.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatn Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC)

Tafsir QS Al Alaq ayat 19 Bagian 2 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). وَٱسْجُدْ  artinya sujud tilawah Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan oleh orang yang memmbaca atau mendengar ayat-ayat sajdah. Ayat sajdah adalah ayat-ayat di dalam Al Quran yang di dalamnya ada perintah untuk sujud. Atau cerita tentang orang-orang yang sujud. Contohnya di ayat 19 ini. Ada juga cerita sujudnya orang-orang beriman yang sujud. Mengapa kita sujud tilawah? Karena kita mengikuti tuntunan Rosulullah Shallallahu alahi wa sallam. Hikmahnya, ketika kita sujud kita sedang berinteraksi dengan Al Quran. Jadi kita membaca Al quran bukan hanya sekedar membaca. Tetapi jika al quran memerintahkan kepada kita, maka kita langsung mengamalkannya. Rosulullah ketika membaca Al quran yang isinya tentang rahmat Allah, tentang surga, kenikmatan-kenikmatan Allah, maka Rosulullah s...

Catatn Kajian Tafsir : Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 ( Ustadz Abdullah Zaen, LC )

Tafsir QS Al Alaq Ayat 15-16 (Ustadz Abdullah Zaen, LC) Oleh : Sulis Sha كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًۢا بِٱلنَّاصِيَةِ “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,” نَاصِيَةٍ كَٰذِبَةٍ خَاطِئَةٍ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Di ayat sebelumnya, Allah mengingatkan Abu Jahal dengan cara yang lembut. Tetapi teguran dengan cara yang kembut itu tidak mempan. Maka Allah memberikan teguran yang sangat keras. Di sini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa berdakwah itu boleh dengan lembut, boleh juga dengan keras. Jadi baik lembut ataupun keras itu diperbolehkan. Tapi ada aturannya. 1. Tergantung mana yang bisa menghasilkan kemaslahatan / kebaikan Secara garis besar, sikap lembut ini harus lebih dominan. 2. Lebih mengedepankan kelembutan daripada kekerasan. Ayat 16 “ yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” Maksudnya ditarik ubun-ubunnya di sini ada tiga penafsiran, 1. Maksudnya adalah ditarik deng...

Catatan Kajian Tafsir Al Qur’an : Tafsir QS. Al Alaq Ayat 4 - Ustadz Abdullah zaen, Lc

Tafsir QS. AL Alaq ayat 4 - Ustadz Abdullah Zaen, LC Oleh : Sulis Sha ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ Artinya: Dialah (Allah) yang mengajari dengan pena Hubungan ayat tiga dan empat:  Setelah Allah menutup ayat ketiga dengan salah satu nama-Nya yaitu Al Akram, maka di ayat ke empat Allah menyebutkan salah satu diantara kemurahanNya. Yaitu diantara bentuk kemurahan Allah kepada kita, Allah mengajarkan dengan pena. Di ayat ini, alat untuk mengajarkannya disebutkan yaitu pena. Akan tetapi objeknya tidak disebutkan di sini. Menurut para ulama, objeknya adalah menulis. Jadi Allah mengajarkannya dengan pena. Ini menunjukkan pentingnya ilmu menulis. Para ulama terdahulu mengatakan, "Ilmu itu seperti hewan buruan. Tali yang digunakan untuk mengikatnya adalah menulis" Artinya, ilmu itu harus ditulis, jika tidak ditulis akan mudah menghilang.  Sarana menyimpan ilmu, intinya ada tiga. 1. otak 2. Pena 3. Lisan (Imam Ibnu Katsir) Allah memilih pena karena ingin menunjukkan keajaiban pena. Kar...